Opini, PancanaNews.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai berjalan di MTsN 4 Buton Tengah,Kecamatan Gu, pada Kamis, 11 September 2025. Kehadiran program ini menjadi wujud nyata perhatian pemerintah terhadap kesehatan peserta didik.
Setiap siswa kini memperoleh jaminan sepiring makanan gratis yang diharapkan mampu menunjang tumbuh kembang, konsentrasi belajar, dan daya tahan tubuh mereka.
Pada hari pertama, para siswa disuguhi nasi putih, telur rebus, tahu goreng, sedikit sayur kacang panjang, dan sebuah pisang. Dari sisi kandungan, menu ini sekilas terlihat memenuhi unsur pokok gizi: ada karbohidrat, protein hewani, protein nabati, sayur, dan buah. Jika dilihat di atas kertas, ia tampak lengkap.
Namun, ketika dibandingkan dengan pedoman “Isi Piringku” yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan, ada jarak yang cukup jelas. Nasi menumpuk memenuhi piring, sementara sayur dan buah hanya hadir dalam porsi kecil. Padahal, konsep gizi seimbang menegaskan bahwa setengah isi piring seharusnya terdiri dari sayur dan buah, bukan karbohidrat semata.
Keterbatasan lain terletak pada variasi lauk. Telur rebus dan tahu goreng memang sehat, tetapi jika disajikan terus-menerus akan membuat siswa cepat bosan. Demikian pula buah yang hanya berupa pisang. Meski praktis, jika tidak divariasikan dengan pepaya, jeruk, atau semangka, siswa berisiko kehilangan keragaman asupan vitamin dan mineral yang dibutuhkan tubuh.
Yang paling disayangkan justru soal rasa. Dari pantauan di lapangan, banyak anak tidak menghabiskan makanan mereka. Alasannya sederhana: menu terasa hambar.
Telur rebus tanpa bumbu, tahu goreng yang polos, dan sayur kacang panjang yang tawar membuat selera makan menurun drastis. Situasi ini perlu jadi perhatian serius, karena makanan bergizi yang tidak dimakan tidak akan memberi manfaat apa-apa.
Kehadiran MBG tentu tidak boleh berhenti pada formalitas “ada makanan di atas piring.” Lebih dari itu, ia harus benar-benar menghadirkan gizi seimbang dengan cita rasa yang ramah bagi anak.
Perbaikan dalam proporsi, variasi lauk, pemanfaatan buah musiman lokal, serta sentuhan sederhana pada bumbu akan membuat program ini jauh lebih efektif.
MBG di Buton Tengah adalah investasi besar bagi masa depan generasi. Jika hanya sehat di atas kertas tetapi hambar di lidah, maka semangat mulia program ini bisa kehilangan makna.
Dengan penyempurnaan yang konsisten, MBG akan benar-benar melahirkan anak-anak yang sehat, cerdas, dan siap menatap masa depan dengan percaya diri.
Penulis : Syaud Al Faisal







