Opini, PancanaNews.com – Pelantikan Armin, S.Pd., M.Si., sebagai Penjabat Sekretaris Daerah (Pj Sekda) Kabupaten Buton Tengah pada Kamis (20/11/2025) menjadi salah satu momen penting dalam perjalanan birokrasi daerah.
Pengangkatan ini bukan sekadar rotasi jabatan administratif, tetapi bentuk kepercayaan dan penegasan bahwa daerah ini membutuhkan figur yang tepat, figur yang tidak sekadar hadir untuk mengisi ruang kosong, tetapi hadir untuk memperbaiki arah dan ritme pemerintahan.
Armin bukan sosok yang muncul tiba-tiba. Ia melalui jenjang karier yang runtut, memulai dari posisi dasar pemerintahan, naik ke level struktural sebagai kepala bidang, lalu dipercaya memimpin Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD).
Rekam jejak seperti ini menunjukkan dua hal: pertama, ia tumbuh melalui proses; kedua, ia memahami dinamika internal birokrasi secara menyeluruh, bukan hanya sekadar teoritis, tetapi melalui pengalaman langsung.
Salah satu kekuatannya adalah konsistensi. Ia tidak pernah melompat dari satu jabatan ke jabatan lain melalui manuver politik atau permainan opini.
Semua posisinya diraih berdasarkan kinerja dan penilaian objektif. Ketika ia duduk memimpin DPMD, tidak ada kontroversi besar yang menyertainya. Tidak ada konflik terbuka, tidak ada kebijakan yang menimbulkan instabilitas, tidak ada opini publik yang memojokkan. Ia menjalankan tugas dengan tenang, rapi, dan terukur.
Di tengah birokrasi yang kadang penuh dinamika, gesekan, bahkan intervensi kepentingan, gaya kepemimpinan Armin justru menjadi kontras yang menenangkan.
Ia memiliki karakter yang jarang ditemui pada pejabat yang mengejar posisi tinggi: ia tidak haus panggung. Tidak mencari sorotan, tidak gencar tampil di media, tidak menciptakan drama, dan tidak membangun citra berlebihan.
Namun di balik gaya tenangnya, ada efektivitas yang solid. Banyak kepala desa, pendamping, dan perangkat pemerintahan mengenalnya sebagai pemimpin yang menjaga hubungan kerja tanpa jarak. Ketika ada persoalan, ia hadir sebagai penyelesai, bukan pengamat. Ketika ada kebuntuan, ia mengawali dialog.
Ketika ada kesalahan, ia fokus pada penanganan, bukan pada saling menyalahkan. Pendekatan seperti ini menciptakan stabilitas birokrasi dan kepercayaan dari bawah hingga ke tingkat pimpinan.
Beberapa tahun terakhir, Buton Tengah tidak lepas dari dinamika internal yang cukup mencolok. Tugas Sekda sebagai pengendali ritme birokrasi pernah goyah karena berbagai faktor, mulai dari disharmoni antar OPD hingga tata kelola administrasi yang memerlukan penataan ulang.
Dalam situasi seperti itu, Buton Tengah membutuhkan figur yang tidak membawa beban masa lalu dan tidak menambah riak baru.
Penunjukan Armin sebagai Pj Sekda menjawab kebutuhan tersebut. Dibanding beberapa pejabat sebelumnya yang kerap terseret pusaran opini dan dinamika politik, Armin tampil sebagai figur penyeimbang: bersih, netral, dan fokus pada pekerjaan.
Ia bukan tipe pejabat yang memecah suasana, melainkan yang menyatukan. Ia tidak membawa ambisi berlebihan, tetapi membawa keteraturan. Ia tidak memanfaatkan jabatan untuk pengaruh politik, tetapi menjaga jabatan sebagai tanggung jawab administratif.
Inilah yang membuat banyak pihak meyakini bahwa Buton Tengah memang sedang mempercayakan tongkat komando administratif pada orang yang tepat.
Sebagai Pj Sekda, Armin memikul tanggung jawab besar: memastikan koordinasi antar OPD berjalan efektif, menjaga disiplin birokrasi, mengharmoniskan administrasi, serta memastikan agenda pembangunan berjalan sesuai regulasi.
Dari rekam jejaknya, ia memiliki tiga modal besar:
- Pemahaman Teknis yang Kuat
Berpengalaman di DPMD, ia sangat memahami dasar pembangunan desa, pengelolaan anggaran, dan mekanisme kebijakan yang banyak bersentuhan langsung dengan masyarakat.
2. Karakter Kepemimpinan yang Stabil
Tidak reaktif, tidak emosional, dan selalu mengedepankan data sebelum mengambil keputusan.
3. Integritas yang Konsisten
Hingga kini, tidak ada catatan negatif yang melekat pada dirinya. Tidak ada skandal, tidak ada friksi besar, tidak ada laporan yang merusak kredibilitas.
Pelantikan Kamis (20/11/2025) bukan hanya seremonial administratif, tetapi sinyal bahwa Buton Tengah memilih kembali jalur yang lebih tenang dan terarah. Jika birokrasi diibaratkan kapal besar, maka Armin adalah nakhoda yang tidak mencari tepuk tangan, tetapi memastikan kapal berlayar dengan benar.
Ia hadir membawa harapan baru: birokrasi yang tidak gaduh, tapi berjalan; tidak berisik, tapi menuntaskan; tidak sibuk tampil, tapi sibuk menghasilkan.
Buton Tengah memang membutuhkan sosok seperti ini. Dan pada waktunya, penunjukan Armin sebagai Pj Sekda akan tercatat sebagai salah satu keputusan yang paling tepat untuk menjaga stabilitas dan arah pembangunan daerah.
Penulis : Syaud Al Faisal







