PancanaNews.com, Buton Tengah – Sebuah rumah sederhana milik seorang warga lanjut usia rata dengan tanah setelah dilalap api pada Sabtu, 21 Februari, tepatnya di Desa Polindu, Kecamatan Mawasangka, Kab. Buton Tengah (Buteng). Di rumah itulah ia membesarkan tujuh orang anaknya, salah satunya tercatat sebagai siswa Sekolah Rakyat (SR) 69.
Api didugl dari sambungan arus listrik. Dalam sekejap, rumah yang selama ini menjadi tempat berteduh keluarga itu hangus tak tersisa. Tak hanya dinding dan atap, material kayu yang telah dikumpulkan sedikit demi sedikit untuk membangun rumah permanen pun ikut terbakar.
Padahal, di depan rumah darurat yang mereka tempati, sudah berdiri fondasi rumah tipe 36 sebuah simbol ikhtiar panjang untuk menghadirkan hunian yang lebih layak. Namun keterbatasan ekonomi dan besarnya kebutuhan keluarga membuat pembangunan itu terhenti. Mereka pun tinggal di bangunan sementara di belakang fondasi tersebut, sembari berharap suatu hari rumah itu benar-benar berdiri.
Informasi kebakaran diterima sesaat sebelum zuhur. Usai menunaikan salat, Bupati Buton Tengah, Dr. Azhari, bersama istri langsung menuju lokasi untuk melihat kondisi korban. Di lokasi, Kepala Sekolah SR 69 Buton Tengah serta pemerintah desa setempat telah hadir lebih dulu.
Di antara puing yang tersisa, Bupati berdialog langsung dengan pemilik rumah dan keluarganya. Ia mengaku turut merasakan kesedihan dan beban yang kini dipikul kepala keluarga tersebut.
” Sementara kita bangun dua kamar dulu, yang penting ada tempat tinggal yang layak untuk keluarga,” ucapnya, memberi kepastian di tengah situasi sulit. Minggu, (22/02/2026)
Sebagai langkah awal, Bupati Azhari membantu pengadaan kusen, batako, bahan bangunan lainnya, serta bantuan kebutuhan dasar seperti alat masak, makanan siap saji, sembako, pakaian, dan tempat tidur berupa kasur.
Selain itu, orang nomor 1 di Buton Tengah ini menambahkan ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Kementerian Sosial melalui Balai Meohai Kendari yang telah hadir menyalurkan bantuan bagi warga terdampak kebakaran sebesar Rp.15 Juta Rupiah.
Di penghujung kunjungan, Mantan Rektor USN Kolaka ini memberikan pesan penguatan kepada korban agar tetap tegar dalam kondisi apa pun, tanggung jawab sebagai kepala keluarga tetap harus dijalankan.
” Keadaan boleh berubah, tetapi tanggung jawab sebagai kepala keluarga tetap harus dijalankan. Tetap kuat dan jangan kehilangan harapan,” pesannya.
Kini, di atas fondasi yang sempat menjadi saksi mimpi yang tertunda, dua kamar akan mulai dibangun. Di tengah kehilangan, keluarga lansia di Desa Polindu itu kembali memeluk harapan bahwa dari abu yang tersisa, kehidupan bisa ditata ulang.
Reporter : Noval









